Waktu itu, antara hari senin, selasa, rabu, kamis, jum’at, sabtu
dan minggu. Emang sudah ada janji dengan seseorang, kebetulan memang lagi gak
ada kegiatan selain bernafas.
Toko buku niatnya, aku pergi dari rumah terlanjur siang dan
cuacanya sangat panas, mungkin gak akan nyaman berpergian dengan keadaaan
begitu. Belum lagi harus berhadapan sama keramaian kota, termasuk macet.
Kota Bandung saat itu, dan sampai saat ini masih Bandung. Aku
pergi menunggangi sepeda motor pabrikan Jepang, kecepatannya standar, karena
bukan motor balap. Keluar dari rumah keadaan lalu lintas masih seperti
biasanya, masih lenggang. Memasuki ke daerah pasar, lalu lintas mulai
memperlambat kecepatannya.
Aku mulai merasa gak nyaman saat itu. Harus berhadapan dengan
kemacetan, belum lagi beberapa angkutan kota selalu menjengkelkan pengendara
lainnya, termasuk aku. Aku hanya bisa mengikuti alur jalan itu. Banyak yang
emosi, ada juga yang adem ayem. Lomba membunyikan klason pun ikut meramaikan
jalan itu, dan itu setiap harinya selalu begitu. Mungkin cocok untuk menguji
kesabaran.
Setelah semua terlewati, aku memutuskan untuk singgah dulu ke
tempat pengisian bahan bakar. Kendaraanku butuh asupan energi untuk melanjutkan
perjalanan. Setelah selesai, aku mampir dulu ke sebuah mini market yang tidak
jauh dari tempat itu. Aku duduk di kursi yang disediakan oleh toko itu, dengan
tujuan melepas lelah sejenak.
Perjalanan yang akan aku tempuh kurang lebih sekitar satu
setengah jam, mungkin bisa disebut tidak terlalu jauh dari tempat tujuan. Tapi
terasa lama dan jauh ketika harus dihadapkan dengan kemacetan, dan itu
resikonya.
Aku janjian
tidak di toko buku itu, tapi suatu tempat yang lumayan jauh dari rumahnya.
Kenapa tidak menjemput di rumahnya ? Karena tempat yang akan kita tuju terlalu
jauh, harus memutar arah. Maka dari itu aku memutuskan untuk bertemu disalah
satu tempat yang menurutku itu adalah tengah dari tempat yang menjadi tujuan
kami.
Dia sudah pergi dari
rumahnya lebih dulu, karena jarak dan dia menggunakan angkutan umum. Jadi suka
agak lama, juga kadang suka telat banget ketika bubaran pabrik. Ya, perjalanan
kami selalu terganggu dan selalu banyak gangguan. Sesekali aku menanyakan : “Udah
sampe mana ?” Namun seringnya lama balesnya, karena aku tahu gimana-gimananya
dia.Dia gak pernah main ponsel kalo lagi di tempat umum yang padat, apalagi
sendirian. Soalnya dia pernah mengalami kejadian yang gak mau dialaminya lagi.
“Aku udah nyampe, kamu
masih dimana ?” Tanya dia, ketika aku sedang berada di lampu merah, tidak jauh
dari tempatnya.
“Tunggu aja, kalo ada
ambulans itu bukan aku ya, jangan dipanggil. Tunggu aja ya, sabar !” Jawabku.
“Iya udah nyampe mana
? Panas tau !!!”.
“Udah tunggu aja, beli
yang dingin-dingin, haus” jawabku sembari memasukan ponselku ke dalam tas, lalu
melaju ke tempat tujuan.
Beberapa menit
kemudian aku sudah sampai di tempat dimana kami akan bertemu. Tapi setelah ku
cari-cari dia tidak ada ditempat itu. Sebuah warung kecil, ada tendanya.
Biasanya kalau malem suka dipake tempat jualan nasi goreng, kami biasa bertemu
disitu. Aku mengambil telfonku dengan tujuan menanyakan keberadaanya. Telfonnya
nyambung tapi gak direspon. Aku chat dia
dan masih tidak direspon.
Anehnya kenapa dia gak
ada di tempat itu dan susah dihubungi, kan tadi dia bilangnya udah sampai. Aku
mulai berjalan perlahan-lahan sambil mencarinya. Sekitar seratus meter dari
warung itu aku memutuskan untuk kembali ke motorku dan melanjutkan mencarinya
sambil menggunakan motor. Tak jauh dari situ aku memutuskan belok dulu ke POM
bensin untuk pergi ke kamar kecil, gak kuat pengen pipis. Sebelum masuk gerbangnya,
aku menemukan siapa yang sedang aku cari, aku mulai memfokuskan pandangan
barangkali bukan dia, dan ternyata benar saja dia.
Dia sedang duduk dibawah
pohon depan gerbang itu. Dia sadar bahwa aku akan mengahampirinya, dia langsung
berdiri dan melihatku ketika menghampirinya. Okeh, dia memasang raut wajah yang
tidak menyenangkan, sudah kutebak dia pasti lagi kesel. Tapi bukan masalah
perjalanan, mungkin tadi aku tidak menjawab aku sudah sampe mana. Ya, aku
beranggapan seperti itu.
“Kenapa cemberut ?
Marah ? Gausah ketemu kalo gitu” Tanyaku dengan nada yang pelan, agar dia tidak
merasa sedang dihakimi.
“Gapapa” Jawabnya
dengan raut wajah yang lumayan bikin jengkel.
“Yaudah tunggu dulu
disini, aku mau pipis dulu.” Ucapku sambil menyimpan ranselku diatas jok motor.
Aku sengaja menyimpan barangku disitu, yang ditakutkan dia malah pergi.
Biasanya suka gitu, kalau dia lagi marah suka pergi gitu aja, tanpa bilang,
dengan cara begitu aku berharap dia menjaga barang-barangku dengan baik.
Aku masuk gerbang POM
itu dan berkeliling untuk mencari yang ada tulisan “TOILET”. Tapi aku tidak
menemukan apa yang aku cari, bukan dia, tapi toiletnya. Aku masih berusaha
untuk itu, dan pada akhirnya aku menyerah. Bukan karena aku lemah, tapi aku
sudah tidak bisa menahannya lagi, mungkin ini udah mulai mau keluar.
“Mbak, toiletnya
sebelah mana ya ?” Tanyaku langsung kepada karyawan yang lagi jaga disitu. Sepertinya
mukaku tidak karuan, mungkin bisa dikatakan canggung. Padahal mah engga, itu
sebab dari menahan pipis.
“Sebelah sana mas, dibelakang
tempat penyimpanan gas.” Jawab karyawan itu sambil menunjukan ke sebuah tempat.
Aku tidak menunggu
lama dan tidak menanyakan lagi ngapain disitu, ini masalah serius, aku harus
segera mungkin mengeluarkan air ini. Aku jalan dengan sedikit larian kecil. Ya,
aku temukan itu. Sebuah papan bertuliskan “TOILET” yang terhalangi oleh
tumpukan gas LPG. Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa plang toilet itu
disembunyiin, apakah memang sengaja atau mereka gak tahu ? Ah entahlah itu
urusan mereka, lagian apa yang aku cari udah ketemu.
Setelah merasakan
lega, aku langsung keluar dari toilet itu. Dengan membayar uang kebersihan
sebesar dua ribu rupiah sesuai dengan apa yang ditulis diatas kotak tersebut ,aku
berikan kepada seorang bapak yang lagi duduk santai disitu. Entah dia petugas
kebersihan, entah siapa, aku gak ngerti. Si bapak itu hanya bilang terimakasih
bersamaan dengan anggukan kepala..
Aku langsung pergi
keluar, karen aku gak tahu lagi mau ngapain lagi disitu. Sekilas aku melihat
plang toilet itu masih belum berubah posisi. Tadinya aku mau nanyain soal itu,
tapi gak jadi. Aku harus menemui yang sedang menjadi petugas penjaga barang.
Aku menghampirinya dan
dia masih begitu aja, memasang wajah yang gitu, kalo di ibaratin kaya makanan
yang enggak enak buat dimakan. Aku masih gak ngerti kenapa dia bisa begitu,
padahal emang kebiasaanya begitu.
“Kamu kenapa?” tanyaku
yang kedua kalinya dengan pertanyaan yang sama. Dan dia masih menjawabnya pun
masih yang sama. Entahlah apa yang terjadi.
---
Ditulis oleh : Roni A. Salam a.k.a Jonerror
Bandung
Hari minggu, 25 Februari 2018
Bandung
Hari minggu, 25 Februari 2018

0 Comments