Suka-duka Menjadi Seorang Pekerja Seni.


Illustrasi oleh : Roni A. Salam | JONERROR | 2017




Ini merupakan sebuah pengalaman yang terus terulang dan tidak pernah berhenti. Kenapa bisa begitu ? saya juga tidak tahu tentang itu, tidak tahu bagaimana pola pikir mereka. Ya, mereka yang sedang menjadi seorang atasan (Bos). 


---

Okeh, aku akan menceritakan apa yang sedang terjadi saat itu. Mudah-mudahan masih ingat secara detail, soalnya itu terjadi satu tahun yang lalu. Dan memori di otak-ku terbatas, karena terlalu banyak yang perlu diingat.

---

Kami bertiga, Tarjo, Trio dan saya sedang memiliki sebuah project mural di sebuah cafe yang baru berdiri sejak tahun 2017 (kalau tidak salah). Lokasinya di daerah Ciamis, Jawa Barat. Saya tidak akan menyebut nama cafe-nya, karena apa ? ya...demi kenyamanan bersama. Cafe-nya keren, aku suka dengan tema-nya, industrial tema-nya. Dulunya bangunan itu bekas Klinik kesehatan, lalu dirombak oleh tukang bangunan yang ahli atas perintah dari yang membeli tempat itu. Itu menurut teman-ku yang sudah survey ke tempat itu lebih dulu.


Saat itu Tarjo masih bingung siapa saja yang akan ikut proses dengannya. Kenapa Tarjo ? karena sang pemilik itu lebih mengenal Tarjo. Karena pemilik cafe tersebut adalah teman dari kakak-nya Tarjo. Entah berapa lama Tarjo berpikir dan dibingungkan dengan hal itu. Dengan begitu, tidak membuat Tarjo pusing dan putus asa. Karena, itu bukan suatu hal yang rumit, hingga perlu untuk bunuh diri. Untung Tarjo gagah perkasa.


Dia sempat bercerita dan merincikan secara garis besar tentang tema, warna, konsep dan sebagainya kepada saya, termasuk beberapa foto tempat yang akan kami garap. 

Saya mulai membuat sebuah sketsa kasar untuk nantinya diberikan kepada pemilik cafe tersebut. Cukup lama untuk mengerjakan itu, karena saya mulai disibukan dengan beberapa progress yang belum terselesaikan.


Tarjo pun tidak memberatkan tugas itu kepada saya seorang, dibantu dengan Trio untuk membuat sketsa, Tarjo pun ikutan dalam hal itu.

---

Saat itu kami belum berada di cafe itu, kami masih berada di Kandang masing-masing, di Bandung. Kami masih menunggu kepastian dari pemilik cafe tersebut apa yang harus kami buat dan kapan kami bisa mulai bekerja. Termasuk negosiasi upah kami dan dimana kami akan beristirahat selama masih dalam proses.

---

Tidak perlu waktu terlalu lama untuk membuat sketsa itu, kurang-lebih tiga hari sudah bisa dikumpulkan dan  dikirimkan kepada pemilik cafe tersebut. Itu bukan hal tersulit bagi kami, karena kami sudah terbiasa dengan hal itu. Kami juga tidak menganggap itu mudah, karena perlu sesuatu yang keren untuk itu.

---

Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya beberapa gambar sudah disetujui oleh pemilik cafe tersebut. Kami tidak langsung pergi ke tempat itu, kami harus mengemas beberapa barang yang akan kami bawa kesana, termasuk celana dalam dan teman-temannya.

---

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Kami mulai berkumpul di satu titik pertemuan yang sudah kami sepakati sebelumnya, tentunya masih di Bandung. Kami tidak pergi dengan kendaraan kami masing-masing, kami akan dijemput oleh pihak yang bertanggung jawab untuk keberangkatan kami.


Sekitar tiga jam menunggu akhirnya kami sudah siap pergi meninggalkan Bandung untuk sementara waktu. Kami targetkan sekitar tiga hari untuk pengerjaanya, termasuk menikmati beberapa tempat atau makanan yang mesti kami kungjungi, hanya sebagai sebuah penyegaran bagi kami.


Setelah adzan shubuh kami mulai berangkat menuju Ciamis. Kami belum sempat tidur malam itu, kami memanfaatkan perjalan kami untuk beristirahat sejenak dan kemudian menikmati jalanan kota ketika pagi tiba.


Sengaja kami pergi sebelum matahari terbit, karena kami tidak mau perjalanan kami terganggu oleh kemacetan jalanan. Itu sungguh mengganggu pemandangan kota, itu membuat kami semakin stres, itu membuat kami bosan. 

Maka dari itu kami tidak menyukai hal itu, hal yang sangat mengganggu. Sesekali kami bercerita, bersenda-gurau dan kemudian tidur lagi.

---

Setibanya di tempat tujuan, kami istirahat sejenak dan memandangi beberapa situasi disana. Ya, wajar saja, itu merupakan tempat yang asing bagi kami yang baru sampai disitu, termasuk saya sendiri. Sungguh perjalanan yang melelahkan, mungkin akan lebih melelahkan jika kami harus jalan kaki menuju Ciamis...hmmm.

---

Singkat cerita, kami sudah menyelesaikannya dengan jangka waktu empat hari tiga malam. Cukup melelahkan dan menguras tenaga. Tapi , untuk tenaga, kami tidak mempersalahkan itu, karena kami disana diberi makan cukup enak dan cukup nyaman untuk kami jadikan tempat istirahat sementara.


Pada hari ke-empat, kami pergi pulang ke tempat asal kami, ke Bandung. Kami tiba di Bandung sekitar sepertiga malam. Kami langsung pergi ke rumah masing-masing. Dengan harapan, diberi upah sementara untuk meyakinkan bahwa kami akan dibayar. Nyatanya tidak. Aku maklumi itu, mungkin saat itu sedang lupa, mungkin juga terlalu lelah dalam perjalanan pulang. Saya pulang dengan bekal ongkos se-adanya, mau tidak mau harus mau.


Dua hari setelah itu, ada kabar yang membuat saya tersenyum. Kalian pasti sudah tahu soal itu. Ya, upah kami sudah disetorkan kepada Tarjo. Ya, walaupun hanya se-per-empat dari yang disepakati. Saya terima itu, setidaknya kami telah dibayar. Tarjo bilang kepada kami, sisa dari upah kami akan diberikan dua bulan lagi. Kami cukup lega dengan kabar itu, setidaknya ada kepastian.


Tapi apa yang terjadi ? satu tahun sudah berlalu. Hingga saat ini kami belum mendapatkan sisa dari upah kami. 

Entah lupa, atau bagaimana. Kami hanya berharap agar tidak terlalu lupa, dan jangan sengaja terlupakan.


Kecawa ? pasti saya kecewa, mungkin juga dengan teman-teman saya. Kami sebagai pegiat seni merasa terpinggirkan. Kami mengerluarkan apa yang ada pada diri kami, termasuk mengurangi jam istirahat kami. Ya, mau bagaimana pun kami terpaksa menerima itu. Semoga diberi petunjuk dan rezeki hingga tidak melupakan apa yang telah terjadi.


--Semoga lekas ingat, Tuan.--
:)

---

Post a Comment

0 Comments

/* popup adblock */